Bukan Keringat Receh, Bukan Air Mata Remeh

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

 

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rejeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rejekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rejeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rejeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” [HR. Ibnu Majah]

Ijmal dalam thalab maksudnya adalah memperbaiki perbuatan mengais rejeki. Rasulullah sendiri yang menafsirkan hal tersebut dengan ungkapan: Tempuhlah jalan-jalan mencari rejeki yang halal dan tinggalkan yang haram. 

 

Sehingga, siapapun insan pengais rejeki namun melakukannya dengan cara yang haram, maka ia tidak bertakwa kepada Allah dan tidak melakukan perbaikan dalam perbuatannya. Bisa dipahami dalam hadits tersebut, bahwa di antara sebab insan menempuh jalur yang haram adalah ketergesaan akan datangnya rejeki. Juga sebab lain: kurang memahami dan percaya bahwa rejeki semua insan sudah dijamin oleh Allah Ta'ala. 

 

Maka, tinggalkan yang haram karena Allah dalam urusan mencari rejeki, adalah langkah besar yang dulangan indahnya kelak akan ia rasakan. Di antara efek harta halal: kedekatan diri pada Allah Ta'ala. Siapapun yang dekat pada Allah Ta'ala, ia akan kian khusyu' shalat dan kian teresap amalannya. Dan siapa yang begitu keadaannya, sampai tetesan keringat dan air matanya pun nilainya adalah nilai surgawi. Bukan keringat receh dan bukan air mata remeh.