Diingat Untuk Disyukuri, Bukan Sebatas Dikenang

Allah Ta'ala memberikan kenikmatan duniawi kepada siapapun yang Dia kehendaki, entah fajirnya atau alimnya. Tetapi Dia memberikan kenikmatan iman hanya kepada yang Dia cintai. Bagi orang beriman, mengingat kenikmatan Allah Ta'ala bukanlah sebatas suatu ingatan, melainkan akhirannya adalah syukur dan amalan.

 

Allah Ta'ala pun memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat kenikmatan dari-Nya, dengan firman-Nya:

 

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ

"Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu." [Q.S. Al-Maidah: 7]

 

Karunia yang dimaksud, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul Jauzy:

 يعني النعم كلَّها. وفي هذا حثٌ على الشكر.

"Yaitu semua kenikmatan. Di hal ini terdapat anjuran untuk bersyukur." [Zad al-Masir,  1/524]

 

Dzikir (mengingat) telah Allah qarinkan (sandingkan) dengan syukur. Sebagaimana firman-Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." [Q.S. Al-Baqarah: 152]

 

Ibnu Abbas berkata:

 اذْكُرُونِي بِطَاعَتِي، أَذْكُرْكُمْ بِمَغْفِرَتِي

"Ingatlah Aku dengan taatmu kepada-Ku, niscaya Aku mengingatmu dengan pengampunan dari-Ku." [Ma'alim at-Tanzil, 1/167]

 

Dalam hadits qudsy, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”  [H.R. Al-Bukhary dan Muslim]

 

Adapun bersyukur, maka itu kelaziman dari dzikir. Ketika seorang beriman mengingat kenikmatan dari Allah, maka ia berdzikir dengan kenikmatan tersebut, baik dengan hati, lisan ataupun anggota tubuh yang beramal ketaatan melalui kenikmatan tersebut.

 

Ibnul Jauzy mendefinisikan syukur sebagai berikut:

 الاعتراف بحق المنعم، مع الثناء عليه

"Mengenal/mengakui hak Allah Sang Pemberi kenikmatan, dengan pujian terhadap-Nya." [Zad al-Masir, 1/123]

 

Walaupun pada hakikatnya, syukur kepada Allah Ta'ala itu lebih luas dari sekadar mengakui atau memuji. Segala ketaatan sejatinya adalah syukur. Karena tidak mungkin seseorang melakukan ketaatan melainkan pastilah menggunakan suatu karunia dan pemberian dari Allah Ta'ala.

 

Allah Ta'ala menciptakan mata. Itu kenikmatan. Maka manusia mensyukurinya dengan menggunakannya untuk ketaatan. Begitu pula dengan telinga, tangan, handphone, listrik dan seterusnya. 

 

Di antara nikmat terbesar dalam hidup seorang beriman adalah nikmat tauhid dan mengenal Sunnah. Maka, mari bertanya, lebih banyak mana:

 

Mengenang masa-masa lalu awal mengenal Sunnah? Atau...mengingat kenikmatan itu semua sambil kian semangat untuk beramal?!

Waffaqakumullah.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy