Faqih dan Tujuan Tafaqquh Sebenarnya

Kembali kami ingatkan pada diri kami, thullab al-ilm dan tak luput bahkan para du'at fi sabilillah, agar membaca kitab "Iqtidha' al-Ilm al-Amal" karya al-Khathib al-Baghdady. Isinya adalah riwayat-riwayat salaf yang menghentikan sejenak penceramah ilmu dari ceramahnya dan penulis ilmu dari tulisannya. Terhenti sejenak untuk menatap diri sendiri. 

 

Bahkan penuntut ilmu, akan terhenti sejenak, demi melihat ke hati dan perbuatannya sendiri. Ilmu ini untuk apa?

 

Di kitab berharga tersebut, ada satu bab dengan judul:

 

بَابُ ذَمِّ التَّفَقُّهِ لِغَيْرِ الْعِبَادَةِ

"Bab Tercelanya Tafaqquh Bukan Untuk Ibadah"

 

Tercelanya menuntut ilmu (walaupun bersungguh bahkan hingga menguasai banyak funun atau meraih beragam label dan gelar) jika bukan untuk ibadah kepada Allah Ta'ala.

 

Kita akan tercekat jika membaca beberapa riwayat awal di bab tersebut, sangat tercermin di kekitaan. 

 

Pertama, dengan sanadnya dari al-Auza'iy yang berkata:

 

وَيْلٌ لِلْمُتَفَقِّهِينَ لِغَيْرِ الْعِبَادَةِ، وَالْمُسْتَحِلِّينَ الْحُرُمَاتِ بِالشُّبُهَاتِ

"Celakalah orang-orang yang ber-tafaqquh bukan untuk ibadah, dan orang-orang yang menghalalkan hal-hal haram dengan syubuhat!"

 

Asy-Sya'by berkata:

 

إِنَّا لَسْنَا بِالْفُقَهَاءِ، وَلَكِنَّا سَمِعْنَا الْحَدِيثَ فَرَوَيْنَاهُ، وَلَكِنَّ الْفُقَهَاءَ مَنْ إِذَا عَلِمَ عَمِلَ

"Sesungguhnya kami bukanlah fuqaha' (para pakar fiqh)! Melainkan kami hanya mendengar hadits lalu kami meriwayatkannya. Tetapi fuqaha (sebenarnya adalah) sesuapa yang jika mengilmui, ia mengamalkan (ilmunya)." 

 

Jika kita jadikan istilah faqih sesuai definisi ala manhaj berilmu, maka betapa banyaknya di kekinian yang mencapai derajat kefaqihan namun sama sekali tak layak disebut faqih. Sebabnya perbuatan atau perkatannya tak mencerminkan kelimuan yang konon diraihnya.

 

Setelah meriwayatkan atsar di atas, al-Khathib melanjutkan dengan riwayat yang saya harapkan diri kita semua mengaca pada apa yang selama ini kita ucap dan perbuat, terutama di medsos. Al-Awza'iy berkata:

 

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ شَرًّا فَتْحَ عَلَيْهِمُ الْجَدَلَ وَمَنَعَهُمُ الْعَمَلَ

"Jika Allah menghendaki kejelekan pada suatu kaum, maka Allah bukakan atas mereka perdebatan dan Allah cegah mereka dari amalan."

 

Allahul musta'an. 

 

Al-Khathib memasukkan atsar ini tepat setelah atsar asy-Sya'by tentang karakter faqih sejati: mengamalkan ilmu. Na'am. Ilmu untuk diamalkan. Dan kita adalah orang-orang yang terhadapnya muqashshir dan kekurangan. 

 

Maka, barangsiapa membuka dan menebar benih untuk pertikaian, hendaknya istighfar dan berhentilah melihat koleksi piala di ruang tamu. Namun jika tetap meninggi dengan menghaluskan maksud dan niatan seolah-olah baik, maka ingatlah perkataan Iblis yang dihikayatkan oleh Allah saat merayu Nabi Adam dan istri beliau agar mereka terjerumus ke lembah fitnah:

 

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

"Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua"" [Q.S. Al-A'raf: 21]

 

Dan jangan seperti orang-orang munafiq ketika sudah terkena musibah sebab kelakuan tangan dan lisan sendiri:

 

ثُمَّ جَآءُوكَ يَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنْ أَرَدْنَآ إِلَّآ إِحْسَٰنًۭا وَتَوْفِيقًا

"Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan (ucapan) dan (perbuatan) yang sesuai (kebenaran)"." [Q.S. An-Nisa: 62]

 

Padahal asalnya adalah kedengkian, kebencian dan keinginan permusuhan.

 

Bukan pula seorang faqih yang berkelakuan seperti kaumnya Nabi Shalih, yang disebut oleh beliau:

 

يَاقَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

"Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat"." [Q.S. Al-A'raf: 79]

 

Melainkan seorang faqih yang Allah beri hidayah adalah :

 

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya." [Q.S. Az-Zumar: 18]

 

ألا هل بلغت؟! اللهم اشهد

اللهم اجعلنا من المخلصين واهدنا إلى سواء السبيل

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy