In Kunta La Tadri, Fa Tilka Mushibah

Tentu saja syarat manhajiyyah pertama dalam menuntut ilmu -baik untuk beramal atau untuk menyebarkan ilmu - adalah ikhlas. Ini syarat batin asasi untuk segala amal shalih. Namun ketika Anda melangkah menuju bidang ilmu syar'i yang dengannya Anda akan berbicara banyak tentangnya di hari nanti, maka kewajiban secara 'ainy atas Anda untuk mempelajari bahasa Arab.

 

Ini -alhamdulillah- sudah dimulai oleh banyak pihak dari kalangan pemuda masa kini. Beragam kursus intensif bahasa Arab, offline atau online, sudah cukup merebak. Kita syukuri akan hal ini dan kita doakan semoga lembaga ataupun pihak (secara umum) yang menyehatkan umat ini, bisa istiqamah. 

 

Tak ada gading yang tak retak. Bahkan, di setiap keretakan, masih ada keretakan. Kendatipun sudah mempelajari bahasa Arab, jika tujuannya memahami ilmu syar'i terlebih mengajarkannya, maka tabungan ilmu bahasa belumlah cukup. Bisa saja seseorang tersesat saat memahami al-Qur'an dengan hanya bermodalkan memahami baku kosakata Arabic dan penggunaannya. Bahkan ketika ia membaca kitab tafsir pun, ia bisa salah faham. Bahkan lebih jauh lagi.

 

Disebabkan apa?

 

Disebabkan untuk menguasai ilmu syar'i tidak se-simple itu (jika tujuannya adalah mengajar atau berbicara agama -setelah mengamalkan-). Ini bukan bermaksud merumitkan masalah. Bukan pula memundurkan banyak pihak. Kita ingin di negeri ini banyak para ulama rabbany, tua maupun muda. Namun puncak gunung yang tinggi tak digapai dengan sekali dua langkah, apalagi dengan banyak tidur. Sebagian berandai mencapai puncaknya dengan helikopter. Kendatipun itu dilakukan dengan mudah, takkan ada yang mengakui dia sebagai pendaki gunung. Bahkan seluruh alam mencibiri sikap instan seperti itu.

 

Kenalilah ilmu alat. Di antara yang utama adalah Ushul Fiqh. Kepentingannya terhadap pemahaman ilmu agama berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah adalah asasi -bersamaan dengan Bahasa Arab-. 

 

Seiring berjalannya Anda bersama ilmu-ilmu alat, akan ditemukan bertebaran istilah-istilah syar'i yang di kitab-kitab ulama. Sebatas faham bahasa Arab saja takkan memberi Anda petunjuk; hingga Anda mempelajari ini semua. Terlebih di bidang Fiqh. Betapa banyaknya istilah yang merupakan hakekat syar'iyyah di sana; yang tidak bisa ditafsirkan dengan hakekat lughawiyyah; disebabkan banyaknya dan variatifnya rincian fuqaha dalam mendefinisikan suatu istilah.

 

Di antara contoh: 

 

Dalam fiqh Islam, tepatnya di Fiqh Buyu' (jual beli), ada pembahasan akad salam/salaf. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqy, bahwa ada seorang Yahudi hendak melakukan akad salam kepada Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- dengan sekian dinar untuk mendapatkan suatu jenis kurma. 

 

Maka fuqaha mengatakan: "Orang Yahudi ini adalah al-Muslim."

 

Anda sontak terkejut. 

 

1. Mungkin Anda akan mengingkari dan akan mengatakan tegas berdasarkan recehnya tabungan ilmu Anda, "Tidak, wahai fuqaha'. Dalam ilmu aqidah dan manhaj, Yahudi adalah kafir di antara Ahli Kitab. Bagaimana mungkin seorang beragam Yahudi selagi dia muslim? Yahudi ya Yahudi. Muslim ya muslim."

 

Penilaian terhadap Anda -jika begini nasibnya-: Anda jahil akan bahasa Arab dan istilah syar'i. Walaupun Anda telah belajar bahasa Arab.

 

2. Atau mungkin Anda tidak mengingkari namun menafsirkannya dengan tafsiran yang bisa jadi membuat binar mata orang awam namun membuat menangis orang alim. Anda berkata, "Masya Allah! Tabarakallah! Hanya karena menunaikan akad salam terhadap Nabi, seorang Yahudi kemudian masuk Islam. Ini berkah dari mulianya akhlak Nabi dalam perdagangan."

 

Penilaian terhadap Anda -jika begini nasibnya-: Anda mendapat ganjaran karena cinta dan pujian Anda terhadap Nabi. Namun jika Anda mengatakan ini kepada orang alim, ia pun tak tahu harus 'apain' Anda; mau omelin tidak enak, mau diamkan tapi harus diingatkan.

 

Maka ketahuilah bahwa istilah 'al-muslim' dalam fiqh -khususnya akad salam-, adalah sebutan untuk al-musytari (pembeli) atau rabbus salam. Dan orang Yahudi tersebut adalah pembeli, sementara posisi Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- jika akad tersebut disahkan, menjadi 'al-muslam ilaih' atau 'al-ba'i''.

 

Begitu pula seorang pelajar Arabic atau anggaplah yang sudah khatam, mengenal nama-nama ulama syariah, baik yang populer di kitab-kitab atau yang jarang disebut. 

 

Contoh:

 

Dahulu ada kitab terjemahan -tentu cetakan lama sekali- ketika meneremahkan kalimat [قال مجاهد], lantas diterjemahkan dengan polos tanpa noktah dosa:

 

"Orang yang berjihad telah berkata...."

 

Apa akan ada kemudian yang menerjemahkan [قال الضحاك]:

 

"Orang yang sering tertawa berkata..."?

 

Syukurnya takkan ada yang menerjemahkan [قال ابن حجر]:

 

"Anak batu berkata...." Yang ini insya Allah takkan ada; karena nama beliau sangat populer di kalangan awam.

 

Adapun jika belum belajar bahasa Arab atau ilmu alat lainnya, dan memiliki semangat agama tinggi, maka cukupkanlah dengan banyak beramal serta giat akannya. Untuk berbicara agama -baik di depan orang terlebih di media sosial- hendaklah berbicara apa yang dia ketahui dan sebatas itu saja. Tanpa ijtihad sehuruf pun. Bahkan jika sebatas copas pun sudah cukup mulia. 

 

Lihatlah di sana ada seorang yang bahkan ia seorang Arab, yang menyalahkan semua ulama -entah kalangan manusia dan jinnya- dalam perkara penamaan penulis kitab al-Jami' ash-Shahih atau populer dengan sebutan Shahih al-Bukhary. Orang ini -dengan tingginya semangat dan aura- menyebutkan hakekat nama asli al-Imam al-Bukhary yang para ulama -menurutnya- salah dalam menyebutkannya. Ia katakan: "Nama asli al-Bukhary Jum'at Muhammad bin Isma'il al-Bukhary."

 

Allahul musta'an.

 

Darimana dia mendapat faedah tersebut? Imam al-Bukhary nama aslinya adalah Jum'at! Ini yang luput dari para ulama zaman ke zaman, abad ke abad, bahkan sekirany ada ulama dari kalangan jin pun akan tercekat dengan faedah ini.

 

Rupanya orang itu membaca cover dari kitab Shahih al-Bukhary tulisan:

 

جمعه محمد ين إسماعيل البخاري

 

Sepertinya perlu ada yang mengadzankan orang ini. Allahul musta'an.

 

Apa ke depannya kira-kira jika saya memiliki karya berbahasa Arab, kemudian tertulis di cover tepatnya di bawah judul kitab:

 

ألفه حسن الجائزي

 

Kemudian ada yang berteriak histeris menyebut nama awal saya. "Rupanya nama awal Hasan al-Jaizy bukanlah Hasan."

 

"Lho, memang nama beliau sebenarnya apa, bosq?!"

 

"Ternyata nama aslinya adalah Ulfah Hasan!"

 

Mungkin ini saatnya kita mengucapkan doa kaffaratul majelis.