Jika Kamu Takut, Kamu Takkan Menipu

Allah Ta'ala kerapkali mempertanyakan akal dan pikiran sebagian makhluknya dengan pertanyaan: [ أَفَلَا تَعْقِلُونَ]. Iya. Apa kalian tidak berpikir?! Apa kalian tidak mempergunakan akal?! Dan ayat-ayat yang akhirannya kalimat tersebut, ditunjukkan untuk pihak kafir, terutama Ahli Kitab dari kalangan Yahudi, dan orang-orang munafiq. 

 

Ini menjadi isyarat bahwasanya orang beriman itu menggunakan akalnya dengan baik. Oleh karena itulah Allah Ta'ala mengatakan:

 

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ." [Q.S. Ali Imran: 190-191]

 

Mereka adalah yang kerap mengoperasikan akal pikirannya demi maslahat dunia dan terutama akhirat. Dengan akal tersebut, mereka memiliki sifat wara' (rasa takut dan hati-hati). Oleh karena itu, Allah Ta'ala melanjutkan penyebutan karakter mereka dengan mengatakan:

 

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [Q.S. Ali ImranL 191]

 

Meminta pertolongan kepada Allah agar dijaga dari adzab neraka adalah kebiasaan orang beriman, yang betul-betul menjadikan akalnya optimal dan stabil. Ia mengetahui bahwa Allah melihat dan mendengar segala amalan dan ucapannya. 

 

Hafsh bin Hamid al-Akkaf berkata:

 العاقل لا يغبن والورع لا يغبن

"Orang yang berakal tidak akan menipu. Orang yang berhati-hati tidak akan menipu." [Raudhah al-Uqala', hal. 21]

 

Ibnu Hibban berkata:

فكما لا ينفع الاجتهاد بغير توفيق ولا الجمال بغير حلاوة ولا السرور بغير أمن كذلك لا ينفع العقل بغير ورع

"Sebagaimana ijtihad (upaya dalam beragama) tidak bermanfaat tanpa taufiq dari Allah, keindahan (fisik) tidak bermanfaat tanpa sikap manis, kebahagiaan tidak bermanfaat tanpa keamanan, begitu pula akal tidak bermanfaat tanpa sikap hati-hati." [Raudhah al-Uqala', hal. 21]

 

Maka lihatlah orang yang tidak berhati-hati dalam berbuat terutama berucap. Kita temukan kerapkali akalnya tidak bermanfaat. Tidak banyak pertimbangan sebelum berbuat atau berucap. Pada akhirnya ia dicela dan tercela sekalipun di awal hari ia dipuji. 

 

Begitu pula para pedagang yang tidak mampu melampaui hari kecuali menipu. Mereka tidak mempertimbangkan akibat dari ghabn, ghisy, riba dan khida'. Yang ada di benak mereka hanya dunia. 

 

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًۭا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." [Q.S. Ar-Rum: 7]

Sedangkan dunia akan menipu mereka. Betapa banyaknya para penipu terbahak riang di awal waktu, kemudian sengsara dengan sesalan terdalam di akhir waktu, bahkan di akhir usia, bahkan di akhirat sana. 


Maka, jika Anda betul-betul berakal, Anda akan mengikuti syariat Allah dan mengikuti petuah Rasulullah. Wallahul muwaffiq.