Kebid'ahan = Hawa

Para ulama Ahlus Sunnah era Mutaqaddimin, memutlakkan bid'ah kerapkali dengan sebutan 'hawa' atau 'ahwa'. Berangkat dari itu, Ahlul Bid'ah/Bida' kerap disebut pula Ahlul Hawa/Ahwa'. Lawan dari bid'ah atau hawa adalah sunnah. Kenikmatan mengenal dan mengamalkan sunnah (dalam artian: manhaj nabi dan salaf dalam aqidah dan amal) adalah agung. 

Tentu saja, pihak yang paling terganggu dengan pemberdayaan sunnah adalah ahlul bid'ah. Baik bid'ah mereka di sektor amaliyyah, lebih-lebih aqadiyyah (aqidah). Karena di mana di sana dihidupkan bid'ah, maka berkuranglah sunnah. Sebaliknya, di mana di sana dihidupkan sunnah, maka berkuranglah bid'ah. 

Insan Indonesia dahulu kala menganggap ritual-ritual tertentu sebagai 'begitulah Islam'. Namun di era Internet, semua maklumat dibuka. Mulai banyak yang ngeh bahwa selama ini banyak ritual tidak ada dasarnya dalam Islam. Dulu, para khatib dan penceramah bisa bebas menyebarkan hadits dhaif tanpa menjelaskan kelemahannya, bahkan hadits palsu sekalipun. Mereka tidak banyak diganggu. Kini, banyak dari mereka tak sebebas dahulu kala. Sudah banyak yang mulai selektif, kecuali sebagian pihak yang tidak mau move on dari keterbelakangan.

Terbelalak sebagian mata hati ketika mengetahui ajaran lampau rupanya menyelisihi salaf. Banyak yang kemudian hijrah dari ajaran lama, terlepas dari total atau tidaknya. Namun ada pula yang tidak mau hijrah, bahkan makin ngotot dan kekeuh. Lebih gigih pula, sekolah tinggi demi membela warisan nenek moyang yang kian lama membuat hatinya semakin dibutakan dengannya.

Maka, saudaraku, nikmat Islam dan mempraktekkan manhaj Sunnah adalah kenikmatan itu sendiri. Sekalipun diperangi, tapi Anda akan mendapatkan riwayat dan atsar dari salaf yang mendukung perubahan Anda menuju yang terang dari yang gelap. Ketika Anda sudah mulai lepas dari bid'ah, maka selayaknya Anda bergembira. Ini sebagaimana sikap senangnya Ibnu Umar, dengan pernyataan beliau:

 

مَا فَرِحْتُ بِشَيْءٍ مِنَ الْإِسْلَامِ أَشَدَّ فَرَحًا بِأَنَّ قَلْبِي لَمْ يَدْخُلْهُ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْأَهْوَاءِ

"Tidaklah aku lebih gembira dengan suatu perkara dalam Islam melebihi kegembiraanku terhadap hatiku yang tidak masuk ke dalamnya sedikitpun dari ahwa' (kebid'ahan) ini." [Syarh Ushul I'tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah li al-Lalika'iy, 1/147]

 

Mujahid pun berkata:

مَا أَدْرِي أَيُّ النِّعْمَتَيْنِ عَلَيَّ أَعْظَمُ: أَنْ هَدَانِي لِلْإِسْلَامِ، أَوْ عَافَانِي مِنْ هَذِهِ الْأَهْوَاءِ

"Aku tidak mengetahui mana di antara kedua nikmat ini yang lebih agung bagiku: [1] diberi hidayah menuju Islam, atau [2] diselamatkannya aku dari ahwa' (kebid'ahan) ini." [Sunan ad-Darimy, 1/344]

Ajaibnya, berlawanannya sebagian pihak dengan sikap sebagian salaf. Mereka justru kian bergembira jika menemukan 'hujjah' palsu untuk melegalisir bid'ah. Sebagian mereka meneliti kitab-kitab hanya bertujuan untuk menjadikan suatu bid'ah menjadi hasanah, sambil melalaikan banyak dari pandangan ulama Salaf. Sebagian berletih untuk membela ormas tertentu semata. 

Selagi kegembiraan salaf (dari segi zaman atau manhaj) akan menjauhnya mereka dari kebid'ahan, kita temukan kegembiraan khalaf (dari segi zaman atau manhaj) akan terhauskannya mereka akan kebid'ahan. 

 

Sebagian Ahli Bid'ah mengagungkan Imam Ahmad bin Hanbal. Tetapi benarkah pengagungan mereka? Sementara suatu ketika seseorang mendoakan beliau dengan perkataan:

 

أحياك الله يا أبا عبد الله على الإسلام

"Semoga Allah menghidupkan engkau wahai Abu Abdillah (yakni: Imam Ahmad) di atas Islam."

 

Maka, beliau menambahkan:

والسنّة

"Dan Sunnah.." [Manaqib al-Imam Ahmad, Ibnul Jauzy, hal. 243]

 

Namun apa kata mereka?

 

'Dikit-dikit sunnah! Dikit-dikit sunnah!'
'Ga ada sunnah-sunnahan di sini!'
'Islam aja ga usah pakai nama sunnah!'

 

Lalu sebagian mereka berusaha berargumen bahwa orang-orang Sunnah ini meresahkan masyarakat. Hal ini serupa dengan kelicikan sebagian politikus yang mengatasnamakan rakyat kecil. Yang terganggu dengan penghidupan Sunnah hanyalah Ahlul Bid'ah. Bukan masyarakat. Ahlul Bid'ah hanya memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, keluguan dan sifat taqlid mereka. Justru selama ini, Ahlul Bid'ah banyak meresahkan masyarakat melalui baliho, speaker dan hal lainnya.

 

Maka, rekan sekalian, kita tahu bagaimana karakter dunia. Jika Anda gembira sekali, maka terbit di sana ujian dan kesedihan sekali. Anda gembira dengan Sunnah dan berusaha menghindari bid'ah, tentu saja ada ujiannya. Istiqamah diperlukan. Mujahadah dibutuhkan. Semua kita butuh bimbingan dan taufiq dari Allah. Jika ada yang tidak suka padamu karena Sunnah, maka mendekatlah dan bertanyalah pada Allah Ta'ala. Jawaban dari-Nya adalah yang terbenar. Senjata yang terkuat ada doa dan sabar.

 

Waffaqakumullah.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy