Kemunduran di Kemajuan Virus Corona

Di antara cerminan kemunduran kualitas dan jam belajar yang minim adalah grup-grup WA pengajian atau DKM atau masjid lebih dominan membincangkan kabar virus, baik soal dzat virusnya, nominal korban, siapa mereka dan seterusnya. Yang seperti ini, mau disebut penuntut ilmu pun belum relevan. Disebut wartawan, kok dadakan?!

 

Disebut 'kemunduran', ini yang benar.

 

Kisah orang-orang Musyrikin: عم يتساءلون "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?"

 

Ternyata mereka bertanya-tanya tentang (النبأ العظيم), yaitu berita besar. Para ahli tafsir menyebutkan maksudnya adalah "Al-Qur'an" atau "Hari Akhir".

 

Kalah pengajian hari ini dengan orang musyrik. Saat ini, bukan tafsir ayat atau syarh hadits yang ditanya atau ditanggapi cepat oleh ikhwan/akhwat grup ngaji, tapi kabar fulan kota fulan mati berapa Italia bagaimana masker berapa.

 

Justru ketika kaki kita terbenam di ubin rumah, seharusnya shalat kita kian panjang, baca al-Qur'an semakin dalam dan kian sedikit baca koran.

 

Apa Anda akan mulai mengutamakan fiqh waqi' dan kian longgar mempelajari fiqh nash?! Semua telunjuk tertuju pada Anda. Anggap saja begitu. Karena kualitas Anda jauh menurun. Persis seperti anak-anak sekolahan atau kuliahan yang hanya belajar sebelum ujian. Setelah ujian, maka liburan. Liburan berarti kelonggaran.

 

Belajarnya kita masih level kekanak-kanakan. Kurang tulus. Menang euforia. Justru di saat liburan, belajar itu kian giat. Seseorang terlihat kesungguhannya di waktu kosong. Semua orang akan terpaksa di waktu sempit.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy