Larangan Mencela Waktu

Allah Ta'ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

 

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

 

"Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." [H.R. Ahmad, no. 7245; al-Bukhary, no. 4826; Muslim, no. 2246]

 

Sebab dan kebiasaan para pencela waktu, ada dua macam:

 

[1] Para pencela yang meyakini bahwa waktu sebagai fa'il (pelaku). Mereka yang disifati dengan sebutan dahriyyah. 

 

[2] Para pencela yang meyakini bahwa Allah adalah yang mengatur segala perkara. Namun mereka mencela waktu disebabkan musibah dan kesulitan, sehingga mereka menisbatkan suatu pada tempatnya (idhafah asy-syai' ila mahallih). [Taysir al-Aziz al-Hamid, hal. 528]

 

Hadits qudsi tersebut melarang keduanya. 

 

Dicontohkan kemudian oleh Syaikh Sulaiman bin Abdullah -rahimahullah- beberapa contoh syair Arab yang merupakan celaan terhadap waktu dan masuk ke larangan hadits. Di antaranya syair Ibnu al-Mu'tazz:

 

يا دهر ويحك ما أبقيت لي أحدًا ... وأنت والد سوء تأكل الولدا.

"Wahai masa, celaka engkau, kau tak menyisakan sedikitpun untukku
Engkau adalah induk keburukan yang memakan anaknya sendiri!"

 

Juga syaikh Abu ath-Thayyib:

 

قبحا لوجهك يا زمان كأنه ... وجه له من كل قبح برقع.

"Betapa buruknya wajahmu wahai zaman, seolah-olah wajahmu
adalah burqa' untuk segala wajah keburukan!"

 

Namun jika kalimat negatif yang diucap tentang zaman dimaksudkan sebagai khabar murni, bukan dengan maksud mencela waktu, maka ini tidak dipermasalahkan, seperti perkataan "Hari ini saya kedinginan" atau "Hari ini saya apes sekali" atau "Ini hari yang berat" atau "Siang ini panasnya terlalu" dan semisal itu. [Lihat: al-Qaul al-Mufid, 2/240]

 

Sebagaimana Nabi Luth alaihissalam pernah berkata:

هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌۭ

"Ini adalah hari yang sulit!" [Q.S. Hud: 77]

Wallahu a'lam