Menengok Apa Yang Telah Kita Lakukan

Allah Ta'ala berfirman:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)

 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Hasyr: 18]

 

Umar bin al-Khaththab menulis ke beberapa pejabat bawahan beliau:

 

 حاسب نفسك في ارّخاء، قبل حساب الشّدّة

"Hitunglah (keburukan) dirimu di masa senang, sebelum perhitungan di masa sulit (Hari Kiamat)." [Muhasabah an-Nafs, Ibn Aby ad-Dunya]

 

Abu Hatim Ibnu Hibban menyatakan:

 

 أفضل ذوي العقول منزلة أدومهم لنفسه محاسبة وأقلهم عنها فترة

"Derajat paling unggul orang yang berakal adalah yang paling kontinyu melakukan introspeksi diri dan yang paling jarang patah arang." [Raudhah al-Uqala', hal. 19]

 

Al-Ghazaly menyatakan:

 

 العقل هو التاجر في طريق الآخرة وإنما مطالبة وربحه تزكية النفس لأن بذلك فلاحها

 

"Akal adalah peniaga di jalan menuju akhirat. Tujuan dari akal dan keuntungannya adalah tazkiyatun nufus (pembersihan jiwa); karena di situlah keberuntungannya." [Ihya' Ulum ad-Din, 4/394]