Mengira Habisnya Dakwah Sunnah Adalah Bentuk Su'uzhan Kepada Allah!

Berburuk sangka kepada Allah Ta'ala mencederai tauhid pada diri manusia. Ia juga merupakan syiar orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman:

 

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنۢ بَعْدِ ٱلْغَمِّ أَمَنَةًۭ نُّعَاسًۭا يَغْشَىٰ طَآئِفَةًۭ مِّنكُمْ ۖ وَطَآئِفَةٌۭ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ ظَنَّ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ۖ  يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ ٱلْأَمْرِ مِن شَىْءٍۢ ۗ

"Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" " [Q.S. Ali Imran: 154]

 

Apa yang dilakukan orang-orang kafir saat perang Uhud? Saat itu, Allah Ta'ala menenangkan hati kaum Muslimin dengan memberikan rasa kantuk secara fisik yang melazimkan rasa aman di hati. Karena hanya orang yang merasa aman yang bisa mengantuk. Namun, itu dipersangkakan oleh kaum kuffar sebagai kekalahan bagi agama Allah Ta'ala. Syaikh as-Sa'dy rahimahullah berkata:

 

فأساءوا الظن بربهم وبدينه ونبيه، وظنوا أن الله لا يتم أمر رسوله، وأن هذه الهزيمة هي الفيصلة والقاضية على دين الله

"Maka mereka pun berburuk sangka terhadap Rabb mereka (yaitu: Allah), terhadap agama-Nya dan Nabi-Nya. Mereka menyangka bahwa Allah takkan menyempurnakan urusan Rasul-Nya. Mereka menyangka bahwa kekalahan (kaum Muslimin di perang Uhud) ini adalah akhiran untuk agama Allah." [Taysir al-Karim ar-Rahman, hal. 153]

 

Karena Allah telah menjanjikan dengan firman-Nya:

 

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33)

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." [Q.S. At-Taubah: 32-33]

 

Maka, apapun bentuk persangkaan yang berlawanan dengan janji Allah adalah su'uzhan kepada Allah. Dan itu ada keserupaan dengan sikap orang kafir dan munafik di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

 

Sebagaimana kini, sebagian orang menyangka bahkan berharap Ahlus Sunnah dan dakwah mereka akan habis tergerus juga tertumpas dari bumi Allah Ta'ala. Ini merupakan persangkaan buruk dan harapan keji terhadap Allah Ta'ala. Sementara Rasulullah bersabda:

 

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

"Selalu ada dari umatku senantiasa yang menegakkan perintah Allah. Tidak dapat mencelakai mereka orang yang menghinanya dan juga orang yang menyelisihinya, hingga Allah datangkan kepada mereka perkaranya sedangkan mereka tetap kondisi seperti itu." [H.R. Muslim, no. 1037]

 

Kabar gembira tersebut tidaklah terucap dari lisan Rasulullah melainkan pasti benar. Akan selalu ada suatu golongan yang istiqamah dan tidak tergoyahkan dengan cacian dan keterpojokan karena menyelisihi mayoritas. Maka jadilah Anda seperti itu; teguh di atas perintah Allah dan sunnah Rasulullah. 

 

Barangsiapa menduga kelak Ahlus Sunnah akan habis diberangus dari bumi, maka ia telah berburuk sangka pada Allah Ta'ala. Dan kami berasumsi bahwa menduga bahwa dakwah Sunnah di negeri ini kelak akan termarjinalkan adalah suatu bentuk buruk sangka pada Allah dan keputusasaan. 

 

Anda boleh melihat pengusiran dan pemblokiran dakwah Sunnah di suatu daerah. Namun para pengusir sejatinya sedang menabur pupuk di ladang. Justru kejadian demi kejadian menumbuhkan bibit baru. Justru dakwah Sunnah semakin dilirik, dicari tahu dan diikuti. 

 

Maka hendaklah setiap Ahlus Sunnah berbaik sangka kepada Allah Ta'ala; bahwa Allah Ta'ala takkan menyia-nyiakan amalan hamba-Nya dan memberi hidayah pada kaum Muslimin. 

 

Waffaqakumullah.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy