Menyindir Guru Sendiri

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالُوا۟ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِى نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌۭ لَّوْ مَا تَأْتِينَا بِٱلْمَلَٰٓئِكَةِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

"Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?"" [Q.S. Al-Hijr: 6-7]

 

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa itu adalah bentuk su'ul adab (tidak beradabnya) orang-orang musyrik terhadap Rasulullah. 

 

Kita lihat, ada tiga kalimat tanpa adab kepada beliau yang mereka ucapkan:

1. Seruan sindiran terhadap Rasulullah, yaitu: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya". Merendahkan Rasulullah dengan menyindir akan kenikmatan dan keutamaan yang Allah Ta'ala berikan kepada Rasulullah; yang sejatinya sebagian mereka mengakui akan kebenarannya. Sindiran-sindiran semacam ini di zaman sekarang banyak terhadap para dai dan ikhwah yang berusaha menyampaikan kebenaran. Kami tidak memberi contoh secara khusus; karena tentu masing kelompok akan berebut untuk menyatakan bahwa kamilah yang benar merekalah yang salah.

 

2. Pensifatan buruk dan hina terhadap Rasulullah, yaitu: "sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila." Ini sudah kelewatan tentu saja. Sedangkan mereka tahu persis justru Rasulullah adalah orang yang paling tajam akalnya dan paling luhur akhlaknya.

 

3. Permintaan yang sia-sia, bersifat menantang dan mengejek. Mendatangkan malaikat agar mereka percaya adalah kesia-siaan; karena Allah tegaskan kemudian bahwa Dia takkan turunkan malaikat demi memuaskan mereka, juga jikapun semegah-megah mukjizat mereka saksikan betul terjadi, takkan bergeser kekufuran mereka menuju keimanan. Karena pada hakikatnya mereka hanya ingin menantang dan mengejek Rasulullah.

 

Apa yang bisa kita pelajari -sebagai murid- dari manhaj tarbiyah yang tersirat di dua ayat tersebut?

1. Jangan pernah menyindir guru Anda; terlebih dengan keutamaan yang beliau miliki.

2. Jangan pernah menggelari guru Anda dengan sifat dan gelar negatif; terlebih jika sifat itu tak ada pada diri beliau.

3. Jangan pernah bertanya atau meminta dengan maksud menantang, menguji seberapa pintar/sabar dan merendahkan.

Anda,

selama tidak beradab pada guru dan kurang mengais ridha guru, maka selama itulah ilmu Anda keberkahannya begitu gersang. 

Ilalang bisa begitu rimbun dan meninggi, tetapi manfaatnya tidak bisa ditatap kebanyakan insan.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy