Penipuan Dalam Jual Beli

Dalam segala akad (transaksi), Islam menerapkan prinsip kerelaan antara kedua belah pihak. Keduanya harus sama-sama ridha akan akad tersebut. Hal ini dituturkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu." [Q.S. An-Nisa: 29]

 

Setiap pihak harus memiliki informasi yang lengkap (complete information) sesuai urf yang berlaku sehingga tidak ada pihak yang merasa dicurangi atau ditipu. Kerapkali, konsumen merasa ditipu disebabkan adanya kondisi yang bersifat 'unknown to one party', yakni keadaan di mana salah satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui pihak lain. Ini juga biasa disebut dengan 'assymetric information'. 

 

Dalam bahasa fiqh, istilah modern tersebut kadang disebut sebagai tadlis, kadang pula gharar. Untuk istilah mudahnya di bahasa Indonesia, itu semua disebut 'penipuan', kendatipun istilah ini terlalu luas cakupan maksudnya. 

 

Dalam jual beli, penipuan dapat terjadi di 4 hal, yakni dalam:

1. Kuantitas
2. Kualitas
3. Harga 
4. Waktu penyerahan

 

Mari kita kupas ringkas satu persatu.

 

1. Penipuan dari segi kuantitas

Contohnya adalah pedagang yang mengurangi takaran atau timbangan barang yang dijualnya. 

Tentu saja Islam melarangnya. Bahkan tandasan Islam dalam melarangnya sangat keras. Allah Ta'ala berfirman:

 

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." [Q.S. Al-Muthaffifin: 1-3]

Di lapangan, praktek penipuan dari segi kuantitas sangat banyak. Pedagang buah misalnya, bisa saja telah mengakali timbangan sekalipun timbangan yang digunakan bersifat elektrik dan modern. Juga kasir minimarket terkadang memanipulasi harga dan tergesa dalam menghapus data yang terpampang dalam layar harga, agar tidak diamati oleh konsumen sehingga terketahui ada penambahan biaya.

 

2. Penipuan dari segi kualitas

Contohnya adalah penjual yang menyembunyikan cacat barang yang ditawarkannya. Rasulullah bersabda:

البيِّعانِ بالخيار ما لم يتفرَّقا، فإن صدقا وبيَّنا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما

"Kedua orang yang saling berniaga memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah, dan bila keduanya berlaku jujur dan menjelaskan, maka akan diberkahi untuk mereka penjualannya, dan bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan dihapuskan keberkahan penjualannya."

 

Hal ini juga jamak terjadi di masyarakat. Terkadang penjual memanfaatkan keluguan dan ketidaktahuan konsumen akan produk jualannya. Atau pedagang menyembunyikan cacat barang dagangannya. Termasuk pula bentuk penipuan dari segi kualitas: barang bekas yang dipoles sedemikian rupa agar tampak masih baru dari pabrik, sehingga mengelabuhi konsumen.

 

3. Penipuan dari segi harga

Contohnya adalah memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar dengan menaikkan harga produk di atas harga pasar. Seorang tukang becak menawarkan jasanya pada turis asing dengan menaikkan tarif becaknya 10 kali lipat dari tarif normalnya. Hal ini juga kerap dilakukan oleh opang (ojek pangkalan). Begitu pula harga-harga kain yang sejatinya adalah kain murah dan 'murahan', namun pedagangnya menaikkan harga begitu tingginya kepada konsumen yang memang tidak mengetahui jenis dan harga kain. Terlebih di zaman sekarang, banyak kain yang tampaknya megah dan istimewa, namun sebenarnya kualitasnya rendah sekali. Ini banyak mengelabuhi kalangan awam.

Hal ini dilarang dalam Islam. Dalam istilah fiqh, ini disebut tadlis ghabn.

 

4. Penipuan dari segi waktu penyerahan

Contohnya adalah petani buah yang menjual buah di luar musimnya padahal si petani mengetahui bahwa dia tidak dapat menyerahkan buah yang dijanjikannya itu pada waktunya. Ada pula konsultan yang berjanji menyelesaikan proyek dalam waktu dua bulan untuk memenangkan tender, padahal konsultan tersebut tahu bahwa proyek itu tak mungkin diselesaikan dalam waktu dua bulan.

 

Keempat macam penipuan tersebut, semuanya melanggar prinsip 'an taradhim minkum'. Jikapun rupanya saling rela, ketahuilah bahwa keadaan sama-sama rela yang dicapai bersifat sementara belaka, yakni sementara pihak yang ditipu tidak mengetahui bahwa dirinya ditipu. Di kemudian waktu, ketika pihak yang ditipu mengetahui bahwa dirinya ditipu, maka ia tidak merasa rela. 

 

Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah perasaan manusia. Maka berbahagialah seorang Muslim ketika mengetahui kesempurnaan syariat Islam dan diberi hidayah untuk mengamalkannya. 

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy