Terlarangnya Berujar Wahai Tuhannya Anjing dan Babi

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Wazir -rahimahullah-:

ومنع العلماء من أن يقال: يا رب الكلاب والخنازير، وإن كان هو ربَّها، فإنه  إنما يُخصُّ بالمعظمات كربِّ العرش العظيم

"Para ulama melarang perkataan: 'Wahai Tuhannya Anjing dan Babi', kendatipun benar bahwa Dia (yakni Allah) adalah Rabb (Pencipta) semua itu. Namun penyebutan tentang Allah dikhususkan dengan sebutan hal-hal yang agung, seperti Tuhannya Arsy yang Agung." [Al-Awashim wa al-Qawashim, 5/430]

 

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa`ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". " [Q.S. Al-Baqarah: 104]

 

Ini menunjukkan bahwa suatu lafal atau kalimat, jika pada asalnya benar sesuai kenyataan dan mubah, namun jika dimaksudkan dengannya buruk atau pelecehan, atau secara otomatis ada perendahan terhadap kebaikan dan kebenaran, maka hukumnya menjadi terlarang. 

 

Dan saya rujuk dari pendapat bolehnya mengatakan negara Zionis sebagai negara Israel dengan alasan 'hakekat urfiyyah' yang bisa kita dapatkan di Ushul Fiqh. Betul, pada asalnya sah untuk disebut Israel jika ditinjau dari penamaan dan urf. Namun dilihat dari maksud, maka itu adalah perendahan pada Nabi Israel (Nabi Ya'qub). Karena jamak terdapat dalil demi dalil yang menunjukkan bahwa beliau tidak meridhai kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan dan segala keburukan yang tersematkan pada anak cucu beliau. 

 

Maka saya mengajak Anda untuk lebih menyebutnya negeri Yahudi atau Zionis, karena itu lebih shahih dari segi hakekat. Wallahu a'lam.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy