Rindu Akan Majelis Ilmu?

 Cukup kontradiktif ketika seseorang melantunkan di media sosial bahwa dirinya rindu akan majelis ilmu, sementara selama 2 pekan ini:

 

⇒ kering lisannya akan bacaan al-Qur'an dan dzikir,


⇒ pandangan matanya lebih dominan tertuju pada media sosial dibandingkan dunia nyata bahkan,


⇒ banyak berdebat atau banyak membaca perdebatan (kendatipun katanya itu masalah umat/agama),


⇒ lebih dominan membaca status dan kicauan manusia yang bukan penuntut ilmu terlebih ulama


⇒ sama sekali atau sangat jarang membaca kitab karya ahli ilmu


⇒ masih tidak ada niatan untuk belajar ilmu alat, atau minimal menguasai suatu bab dari ilmu (alat maupun ilmu maksud)

 

Maka perlu ingat diri kita akan ayat berikut:

 

لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا۟ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا۟ بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا۟ فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍۢ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ

"Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." [Q.S. Ali Imran: 188]

 

Kendatipun ayat tersebut turun disebabkan tingkah Yahudi, namun ibrahnya juga untuk kita.

 

Berbangga dengan diri kita sebagai panitia kajian, ustadznya atau muridnya? Kemudian melantunkan rasa rindu akan majelis ilmu namun di masa luang menyia-nyiakan segala kesempatan waktu untuk menuntut ilmu?! Ini kepalsuan dan keterpedayaan diri.

 

Lalu, selama ini menjadi panitia kajian untuk apa? Ketika tidak ada kajian dipanitiakan, tidak menambal waktu dengan ilmu dan amal?!

 

Lalu, selama ini menjadi pengajar ilmu untuk apa? Ketika tidak ada kajian diampu, maka seperti ABG sedang liburan semester?!

 

Lalu, selama ini menjadi murid untuk apa? Ketika guru tidak ada majelis lagi, terombang-ambing dalam fitnah, perdebatan, komentar sana komentar sini tanpa juntrungan?!

 

Sebagian dari kita bahkan hendak bertindak semisal hero dan pahlawan perselisihan antar dai atau madzhab. Yang itu bukanlah kelasnya. Bukan kapasitasnya. Maka sangat layak bagi kita semua lebih memanfaatkan waktu untuk belajar. Tidak berbangga dengan sebatas apa yang dipunya dari kekerdilan ilmu dan fiqh. Belajar dan beramal. Jika ingin menebar manfaat, tunaikan sewajarnya dan sesuai kapasitasnya.

 

Sebagian penyair Arab berkata:

لا تقترف ذنباً وتحيى خائنــــــــــاً *** لا تحسبنَّ العيش يمضي مزهــــراً

واعلم بأنك ميت ٌفي غفلــــــــــــةٍ *** مهما بلغت مِنَ الدُّنا مُتَكبِّـــــــــــراً

فأمن لنفسك دائما نحو العــــــــلا *** واظهرْ كريم النفس حتى تُثْمِـــــرَ

"Jangan lakukan suatu dosa dan jangan hidup sebagai pengkhianat...
Jangan kau kira kehidupan itu berlalu enak begitu saja

Ketahuilah bahwa engkau adalah mayyit dalam kelalaian...
sekalipun dunia telah kau gapai dengan sombongnya"

 

Jangan kira waktu luang yang panjang ini tidak dipertanyakan di kemudian masa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

"Dua nikmat yang banyak insan terperdaya di dalamnya: kesehatan dan waktu luang." [H.R. Al-Bukhary]

 

Sementara, dikatakan oleh Rabb al-Alamin:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." [Q.S. Alam Nasyrah: 7]

Di masa perang, Allah tetap mensyariatkan shalat untuk kaum Muslimin. Bahkan setelah ditunaikan shalat, Allah mewajibkan semuanya agar terus berdzikir. Allah Ta'ala berfirman:

 

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ

 

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa)." [Q.S. An-Nisa: 103]

Sekarang, kita bertanya:

 

Kita rindu akan majelis ilmu. Kerinduan itu karena rindu akan dzikir atau rindu semata-mata kumpulan insan?

 

Jika rindu akan dzikir, maka Anda bisa mengobatinya setiap saat. Mengikuti perdebatan, berkecimpung di dalamnya dan segala kelalaian, adalah lawan dari kerinduan akan dzikir.

 

Namun jika ternyata terkuak di benak bahwa kerinduan akan majelis itu semata-mata rindu kumpulan, bukan dzikirnya, maka tolong diperiksa lagi selama ini kita hadir, menghadiri bahkan mengkaji di majelis untuk apa?!

 

Wallahul musta'an.

 

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy