SAHKAH BERWUDHU DENGAN AIR ES DARI KULKAS?

PERTANYAAN
Kami terbiasa membekukan air menjadi es di kulkas. Di sebagian dinding dalam kulkas pun ada semacam gumpalan es yang kami yakini semua itu aslinya ada air biasa. Apakah sah kami berwudhu dengan semua macam air es tersebut?

 

JAWABAN

Bismillah.
Di antara kalimat doa yang diucapkan Nabi sebagai doa istiftah dalam shalat beliau adalah:


اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

“Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin.” [H.R. Al-Bukhary, no. 744; Muslim, no. 598 dan Ahmad, no. 10408]

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh an-Nasa’I baik dalam Sunan ash-Shughra maupun al-Kubra, selagi beliau menjudulkan bab untuknya dengan judul [باب الوضوء بالثلج], yakni Bab Berwudhu dengan Air Salju. Dan dalam bab lainnya untuk hadits yang sama, beliau judulkan dengan [باب الوضوء بماء الثلج والبرد], yakni Bab Berwudhu dengan Air Salju dan Es.

 

Para fuqaha dari segenap madzhab menyimpulkan dari hadits tersebut akan bolehnya bersuci (berwudhu atau mandi wajib) dengan air salju maupun air es, namun mayoritas mereka mensyaratkan air tersebut bersifat mutaqathir (menetes) atau dza’ib (meleleh). Bukan sekadar materi padat yang lembab atau basah.

Ibnu Nujaim, seorang ulama besar madzhab Hanafy, mengatakan:

الْمُرَادُ بِمَاءِ  السَّمَاءِ مَاءُ الْمَطَرِ وَالنَّدَى وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ إذَا كَانَ مُتَقَاطَرًا وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ يَجُوزُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَقَاطِرًا
البحر

“Yang dimaksud dari Maa’ as-Samaa’ (air dari langit) adalah air hujan, air embun, air salju dan air es, jika bersifat mutaqathir (menetes). Menurut Abu Yusuf (salah satu murid Abu Hanifah), ia dibolehkan walaupun tidak menetes.” [Al-Bahr ar-Ra’iq Syarh Kanz ad-Daqa’iq, 1/71]


Kendatipun Abu Yusuf mengatakan hal tersebut, Ibnu Nujaim menyatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang tidak membolehkan berwudhu dengan air salju atau es yang tidak menetes.

 

Al-Mawardy, seorang ulama madzhab Syafi’I, menerangkan perihal kondisi air es atau salju dan hukum menggunakannya untuk bersuci:

لِأَنَّهُ كَانَ مَاءً فَجَمُدَ، ثُمَّ صَارَ مَاءً حِينَ ذَابَ وَانْحَلَّ، فَأَمَّا إِذَا أُخِذَ الثَّلْجَ وَالْبَرَدَ فَدَلَكَ بِهِ أَعْضَاءَ طَهَارَتِهِ قَبْلَ ذَوَبَانِهِ وَانْحِلَالِهِ، قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ: يُجْزِيهِ، وَإِطْلَاقُ مَا قَالَهُ الْأَوْزَاعِيُّ غَيْرُ صَحِيحٍ، لِأَنَّ إِمْرَارَهُ الثَّلْجَ عَلَى أَعْضَائِهِ يَكُونُ مَسْحًا ، فَإِنْ كَانَ الْمُسْتَحَقُّ فِي الْعُضْوِ الْمَسْحَ كَالرَّأْسِ أَجْزَأَهُ بِحُصُولِ الْمَسْحِ، وَإِنْ كَانَ الْمُسْتَحَقُّ الْغَسْلَ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ حَدَّ الْغَسْلِ أَنْ يَجْرِيَ الْمَاءُ بِطَبْعِهِ، وَهَذَا مَسْحٌ، وَلَيْسَ بِغَسْلٍ وَمَسْحُ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ غَيْرُ مُجْزِئٍ.[ الحاوي1/141]


“Karena ia (air es) adalah air yang kemudian membeku, kemudian menjadi air kembali ketika meleleh. Adapun jika air salju atau es diambil kemudian diusapkan ke anggota tubuh untuk wudhu sebelum melelehnya, maka al-Awza’iy berkata: “Itu sah!”. Namun pemutlakan perkataan beliau tidak benar. Karena mengusapkan salju (atau batangan es) di atas anggota wudhu disebut mash (mengusap). Jika anggota tubuh yang memang berhak diusap seperti kepala, maka sah; disebabkan terjadinya pengusapan dengan air. Namun untuk anggota tubuh yang seharusnya dibasuh (bukan diusap semata), maka tidak cukup (diusap dengan salju padat atau batangan es). Ini disebabkan kriteria ghasl (membasuk) adalah air mengalir dengan tabiatnya. Adapun yang terjadi dengan salju padat atau batangan es hanyalah mash (mengusap), bukan membasuk. Sedangkan mengusap apa yang harusnya dibasuk tidaklah mencukupi (tidak sah).” [Al-Hawi al-Kabir, 1/41]

 

Begitu pula yang dituturkan oleh Ibnu Qudamah dari madzhab Hanbali:


فَإِنْ أَخَذَ الثَّلْجَ فَأَمَرَّهُ عَلَى أَعْضَائِهِ لَمْ تَحْصُلْ الطَّهَارَةُ، وَلَوْ انْبَلَّ بِهِ الْعُضْوُ لِأَنَّ الْوَاجِبَ الْغَسْلُ، وَأَقَلُّ ذَلِكَ أَنْ يُجْرِيَ الْمَاءَ عَلَى الْعُضْوِ، إلَّا أَنْ يَكُونَ خَفِيفًا فَيَذُوبَ وَيَجْرِيَ مَاؤُهُ عَلَى الْأَعْضَاءِ، فَيَحْصُلَ بِهِ الْغَسْلُ، فَيُجْزِئُهُ. [المغني1/16]
 


“Jika ia mengambil air salju kemudian menjalankannya di atas anggota tubuhnya, maka bersuci belum terwujud, meskipun anggota tubuh tersebut menjadi lembab. Karena yang wajib adalah membasuhnya. Paling minimal air mengalir di atasnya.  Jika salju atau es tersebut ringan sehingga meleleh dan mengalir airnya, maka terwujudlah perbuatan membasuh, sehingga sah.” [Al-Mughny, 1/16]

Maka, jika Anda memanfaatkan batangan es atau gumpalannya untuk wudhu, dipertimbangkan di keadaan melelehnya dan mencairnya ia. Mengusap wajah, tangan dan kaki dengan batangan es atau gumpalannya tanpa ada tetesan mengalir, tidaklah benar dan tidak sah. Adapun jika ia meleleh dan menetes sehingga mengalir di atas anggota tubuh tersebut, maka sah. Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy

 

Referensi:
- Shahih al-Bukhary, Muhammad bin Ismail al-Bukhary
- Shahih Muslim, Muslim bin al-Hajjaj
- Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
- Sunan an-Nasa’i al-Kubra, Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i
- Al-Mujtaba min as-Sunan, Ahmad bin Syu’ain an-Nasa’i
- Bahr ar-Ra’iq Syarh Kanz ad-Daqa’iq, Ibn Nujaim al-Mishry
- Al-Hawy al-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, Abu al-Hasan al-Mawardy
- Al-Mughny, Ibn Qudamah al-Maqdisy