Senang Ketika Aib Saudara Seterumu Tampak?

Di antara manhaj tarbawiyyah kehidupan yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat tekankan agar diamalkan umatnya adalah tidak mencari-cari kesalahan dan aib orang yang Allah tutupi. Dan jika mengetahuinya (yakni: aib fulan yang Allah tutupi dari khalayak), jangan ia sebarkan di majelis. 

 

Pelanggaran akan hal ini -terima atau tidak, amini atau sangkal- terasa kendatipun kita membiarkan jenggot kita tumbuh apa adanya dan mengangkat kain di atas mata kaki. Saat kopdar, saat bertemu di jalan, saat ngobrol setelah kajian dan saat lainnya. Awalnya membicarakan kehidupan, pekerjaan dan hal umum. Kemudian datang setan ke tiap insan. Mulai menyinggung soal fulan, terutama public figure; terlebih yang biasa tersebut namanya di media sosial.

 

Diawali dari mujmalat tentangnya. Jika dilanjutkan, akan menuju mufashshalat tentangnya. Yang belum tahu, akhirnya tahu. Walaupun di awal pembawa kabar berkata, "Sebaiknya antum tidak perlu tahu kalau belum tahu. Bersyukurlah antum belum tahu."

 

Waihaq! Betapa lisan munafik lebih berbahaya dari lisan musuh yang jujur. Jika berharap yang belum tahu agar tidak tahu, maka mengapa mengangkat tema mujmal yang buruk di majelis kopi?!

 

Maka mulailah satu persatu nama disebut. Kabar dari mulut ke mulut, sementara mayoritas mulut manusia itu bau. Banyak hal telah dilahap. Makin busuk baunya. Seandainya majelis ghibah memberikan warna dan bau karena ghibahnya, maka mestilah orang terjelek warnanya dan terbusuk baunya adalah ahli ghibah dan namimah.

 

Dan pada waktunya, ahli ghibah -sekalipun tokoh agama atau penuntut ilmu- akan dibuka kebusukannya.

 

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- :

 

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا المُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

 

"Wahai segenap orang yang berislam dengan lisannya (ucapannya) namun keimanannya belum sampai ke hatinya (qalbunya), janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya yang muslim, pasti Allah akan membuka aibnya. Barangsiapa yang dibuka aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkar keburukannya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya." [H.R. At-Tirmidzy, no. 2032]

 

Tatabbu' aurat muslim adalah kelakuan sebagian manusia. Sebagian mereka adalah munafiq yang ingin mencerai-beraikan umat. Sebagian mereka adalah muslim yang terbiasa jiwanya terlezatkan dengan ghibah dan namimah; serta teracuni hizbiyyah.

 

Tatabbu' adalah tajassus; yakni memata-matai. Termasuk sikap tajassus adalah sikap 'kepo' dan suka bertanya-tanya tentang ketergelinciran fulan yang tidak diketahui siapapun; atau rajin mengintai akun-akun media sosial -terutama Facebook- yang telah maklum rajin menumbangkan harga diri dan kehormatan saudara Muslim yang menjadi seterunya. Kita tidak sedang membicarakan anak metal, anak punk dan kalangan awam. Kita sedang berbicara para multahin (orang-orang berjenggot) yang ilmunya hanya tertitip di sana tidak sampai ke seluk hati. Iya. Kita berbicara tentang kekitaan.

 

Tajassus komentar-komentar busuk para pemakan bangkai. Kemudian laporkan ke paduka teragung agar terjadi pertengkaran. Aib demi aib terbongkar. 

 

Mereka persis melakukan yang dijelaskan oleh al-Mubarakfury -rahimahullah-:

 

تَجَسَّسُوا (عَوْرَاتِهِمْ) فِيمَا تَجْهَلُونَهَا وَلَا تَكْشِفُوهَا فِيمَا تَعْرِفُونَهَا

"Mereka mengintai aurat-aurat (saudara-saudara mereka) yang (pada asalnya) tidak mereka ketahui (sebelumnya) dan janganlah kalian menyingkap aurat yang kalian ketahui." [Tuhfah al-Ahwadzy, 6/153]

 

Pun ketika seorang dari kita mengetahui aib manusia -yang Allah tutupi dan tidak disyariatkan untuk dibongkar-, maka ikuti petuah Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- berikut:

 

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَذْكُرَ عُيُوبَ صَاحِبِكَ، فَاذْكُرْ عُيُوبَكَ

"Jika engkau hendak menyebut aib-aib temanmu, maka sebutlah (atau: ingatlah) aib-aibmu sendiri." [Ash-Shamt, hal. 130]

 

Amr bin al-Ash -radhiyallahu anh- suatu hari melewati bangkai seekor peranakan kuda-keledai, lalu ia berkata:

 

والله لأن يأكل أحدكم من لحم هذا خير له من أن يأكل لحم أخيه

"Demi Allah, seorang dari kalian memakan daging (bangkai) ini, itu lebih baik baginya daripada memakan daging saudaranya sendiri." [Dzam al-Ghibah wa an-Namimah, hal. 18]

 

Maka, ya akhi, jangan sibukkan waktu di media sosial dengan al-khaudh fi uyub an-nas (menenggelamkan diri di perbincangan aib orang). Zombie-zombie media sosial yang senang saat aib-aib terkuak, akan menularkan penyakit mereka dan membiarkan banyak orang tertular. Luangkan waktumu untuk faedah dan kebaikan dibandingkan ghibah dan aib manusia. Berkata Aun bin Abdullah -rahimahullah-:

 

ما أحسب أحدًا تفرغ لعيب الناس إلا من غفلة غفلها عن نفسه

"Tidaklah aku menganggap siapapun yang meluangkan waktu untuk aib manusia kecuali disebabkan kelalaian dirinya akan (aib) dirinya sendiri." [Hilyah al-Auliya, 4/249]

 

Semoga suatu kalimat yang Allah Ta'ala jadikan sebagai nasehat bermanfaat.

 

وفقني الله وإياكم