Usahamu Adalah Hartamu

Harta, jika dibahasakan menjadi bahasa Arab, maka populernya disebut 'al-mal' [المال]. Para ulama beragam pandangan mengenai pengertian harta. Apakah harta itu mesti berupa materi fisik, atau diistilahkan sebagai 'al-ayn' [العين], atau mungkin dikenal di bahasa Inggris sebagai 'goods'? Atau harta itu bisa dimaknai secara luas, entah itu al-ayn atau al-manfa'ah (manfaat)?

 

Mari kita ingat kisah seorang wanita dari kalangan sahabat Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-, yang menghibahkan dirinya untuk Nabi. Pada akhirnya, beliau justru menikahkan wanita tersebut dengan seorang sahabat yang mulia namun kita ketahui tidak punya 'harta'. 

 

Apa maharnya?

 

Tentu saja maharnya bukan bismillah, seraya berkata 'kupinang kau dengan bismillah'. 

 

Melainkan kata beliau:

قَدْ زَوَّجْنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ

"Kami telah menikahkan kamu dengannya dengan (mahar) apa yang kamu punya dari al-Qur'an." [H.R. Al-Bukhary, no. 2310]

 

Maksudnya: ash-shadaq (mahar) untuk wanita tersebut adalah taklim (mengajarkan) apa yang pria itu miliki dari al-Qur'an kepada istrinya. Bukan sebatas pembacaan al-Qur'an; karena keumuman ulama pun memahami bahwa pembacaan al-Qur'an tidak boleh dikonversikan menjadi nilai duniawi berupa materi; sedangkan mengajarkan al-Qur'an -menurut pendapat yang lebih kuat- bisa dinilai sehingga boleh menerima upah dari pengajaran.

 

Karena itu pula, Ibnu al-Mulaqqin asy-Syafi'i -dan ulama lainnya- memberikan istilah: Aqd an-Nikah bi al-Ijarah [ عقد النكاح بالإجارة]. [At-Tawdhih li Syarh al-Jami' ash-Shahih, 15/193]

 

 Kita kenal Ijarah dengan makna sewa-menyewa. Dan dalam fiqh, ijarah atau menyewa bisa dalam hal materi fisik (al-ayn) atau makna, semisal: jasa. 

 

Apa bisa membayar mahar dengan jasa, bukan dengan materi fisik seperti uang, cincin emas, atau seperangkat alat shalat? Boleh. Karena itu terjadi di zaman Rasulullah dan beliau mensahkannya. 

 

Tapi kok bisa jasa tersebut disebut harta?

Bisa. Karena Allah Ta'ala yang mengatakan:

 

وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَآءَ ذَٰلِكُمْ أَن تَبْتَغُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُم 

"Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini." [Q.S. An-Nisa: 24]

 

Lihatlah lafal 'amwal' yang merupakan jamak dari 'mal'. Ia adalah ash-shadaq (mahar). Mahar hanya sah ditunaikan dengan harta. Berangkat dari itu, jasa atau usaha seseorang yang bisa bernilai materi, disebut pula sebagai harta atau al-mal.

 

Ini menunjukkan bahwa manfaat termasuk pula disebut al-mal (harta) secara syar'i. Ini pendapat jumhur dan pendapat yang shahih. Sedangkan pendapat madzhab Hanafiyyah, harta itu hanyalah al-ayn (materi berupa benda). 

 

Tercabang dari ini akan banyak furu' fiqhiyyah di kenyataan. Contoh, masalah wakaf. Apakah boleh mewakafkan hak cipta? Juga misalnya mushaf elektronik, apakah ia berupa al-ayn atau al-manfa'ah? Bahkan permasalahan mushaf elektronik ini bisa melebar ke lainnya, seperti:

 

- Apakah orang yang sedang berhadats boleh menyentuh lembaran mushaf elektronik?


- Manakah yang afdhal, membaca dengan mushaf cetak atau mushaf elektronik?

 

Dan seterusnya.

 

Fiqh, baik ushul maupun furu'-nya, adalah hal-hal yang menarik untuk dikaji. Seorang thalib, jika ia menuntut ilmu Fiqh dengan ikhlas, untuk beramal, untuk didakwahkan sesuai dengan dalil dan istidlal yang mu'tabar, maka Allah akan berikannya taufiq dan ia akan merasakan kenikmatan ilmu dan iman. 

 

وبالله التوفيق

 

Ditulis oleh

Hasan al-Jaizy